Pabrik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berhenti beroperasi sementara waktu. Hal itu disebabkan suplai gas dari PT Medco E&P Malaka yang digunakan sebagai bahan baku untuk produksi pupuk urea terkendala.
“Jadi terhitung sejak 29 Mei 2021 lalu, pabrik PIM berhenti sementara, karena suplai gas dari PT Medco terkendala,” kata Manager Humas PT PIM, Nasrun, Selasa (22/6).
Menurut Nasrun, pihaknya mendapatkan informasi dari manajemen, terkendalanya suplai gas untuk PT PIM dikarenakan PT Medco sedang melakukan pemeliharaan di sumur gas.
“Kami juga dapat kabar, terhitung 18 Juni 2021 mendatang, suplai gas ke PIM akan masuk kembali, namun tidak cukup untuk menghidupkan pabrik Urea, hanya untuk ammonia saja,” ujar Nasrun.
Sekali produksi, pihaknya membutuhkan gas 51 MMbtu (million british thermal units), namun saat ini hanya bisa memenuhi sekitar 20 hingga 30 MMbtu saja. Jika nanti suplai gas dari PT Medco sudah penuh atau normal kembali, maka kata Nasrun, pabrik Urea akan kembali beroperasi seperti biasa.
“Kebetulan kita masih tersedia stok pupuk bersubsidi sekitar 130 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan diwilayah pemasaran kita, dan itu harus didistribusi hingga dua bulan ke depan,” jelasnya.
Namun saat ini, lanjut Nasrun, sentralisasi pemasaran sudah di pegang oleh Pupuk Indonesia (PI) Persero. Sehingga seluruh pupuk subsidi nasional merupakan tanggungjawab mereka (PI).
“Kalau soal kelangkaan itu sesuai dengan kuota kebutuhan, karena ketersediaan pupuk bersubsidi tercukupi sesuai dengan kuota kebutuhan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi kelangkaan yang isunya terus bergulir itu, kata Nasrun, bukan tanggungjawab pihaknya, karena ketersediaan pupuk sesuai dengan kuota pupuk bersubsidi yang dibutuhkan.
“Kenapa pupuk langka sekarang, karena kebutuhan untuk lahan lebih luas dibandingkan suplai pupuk yang disalurkan pemerintah,” ungkapnya.
Kata Nasrun, pihaknya per hari secara estimasi mengalami kerugian hingg Rp1 Miliar lebih, karena seharusnya jika tidak ada produksi, gaji karyawan harusnya juga tidak diberikan.
“Tapi kita tidak lakukan itu, karena gaji dan kesejahteraan karyawan masih tanggungjawab perusahaan. Total karyawan organik (tetap) lebih sebanyak 613 orang dan non-organik 630 orang lebih. Dan kita menjamin mereka tidak akan di PHK atau dirumahkan,” imbuhnya. (*/cr4)
Sumber: ajnn.net











Komentar