oleh

Kebakaran di Mendahara Diduga dari Arus Pendek Listrik

-News-140 views

MUARASABAK – Banyaknya pemukiman penduduk di pinggir sungai dan laut dengan bangunan kayu yang rawan kebakaran di Tanjung Jabung Timur memunculkan harapan agar ke depan daerah ini memiliki alat pemadam kebakaran khusus melalui perairan.

Kepala Dinas Polisi Pamong Praja dan Damkar Tanjab Timur Hendri mengatakan bahwa penanganan kebakaran selalu terkendala dengan alat pemadam. Apalagi di wilayah pesisir. Karena itu, kata dia, alat pemadam khusus di wilayah pesisir memang sangat diperlukan.

“Namun apa yang bisa di lakukan dengan keterbatasan anggaran kita,” ujar Hendri kepada Metro Jambi, Rabu (9/6). Dia mengaku pernah mengajukan usulan pengadaan alat pemadam khusus tersebut, namun terbentur prioritas anggaran.

Baca Juga  KAHMI Harus Dorong Bangsa Ini Hargai Perbedaan dan Berkolaborasi Hadapi Tantangan Ke Depan

Untuk mengantisipasinya selama ini, lanjut dia, dilakukan pembelian tambahan alat pemadam melalui anggaran dana desa. Hanya saja, tambah dia, kapasitas alat pemadam milik desa juga tidak maksimal.

“Memang harus ada kapal pemadam khusus yang dapat digunakan untuk wilayah pesisir. Ini sudah menjadi kebutuhan di wilayah kita,” jelasnya.

Hendri memastikan akan kembali melakukan pembahasan urgensi kebutuhan ini dengan DPRD. “Mudahan-mudahan ada solusi nantinya,” harapnya.

DPRD sendiri mendukung wacana ini. “Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, Dewan setuju-setuju saja, apalagi geografi Tanjabtim merupakan wilayah pesisir,” ujar Ketua DPRD Tanjung Jabung Timur Mahrup, Rabu (9/6).

Dari musibah kebakaran hebat di Kampung Lama Desa Mendahara Tengah, Kecamatan Mendahara, pada Selasa (8/6) subuh lalu terlihat bahwa sebagian besar bangunan yang diamuk api berada di pinggir sungai. Rumah-rumah dibangun dengan konstruksi panggung, termasuk jalan dengan lantai papan.

Baca Juga  Terperangkap Dalam Rumahnya yang Terbakar, Warga Aceh Timur Tewas Terpanggang

Karena itu, saat kebakaran terjadi mobil damkar dengan kapasitas besar tidak bisa mencapai titik lokasi. Di sisi lain, sumber daya air sungai yang melimpah tidak termanfaatkan. Tidak ada alat pemadam yang berbasis transportasi kapal di sungai untuk membantu pemadaman.

Akibatnya, dalam kejadian terbaru itu, sertus lebih rumah ludes diamuk api yang menggila selama sekitar lima jam. Sebanyak 116 keluarga kehilangan tempat tinggal dengan kerugian ditaksir mencapai angka miliaran rupiah.

Baca Juga  Sejumlah Mitra Kerja Pelabuhan Tanjung Perak Ikut Vaksinasi Covid-19

Inafis Periksa Lokasi Kebakaran

Pasca kebakaran, tim Inafis  Polres Tanjab Timur dan Polda Jambi langsung turun ke Mendahara Tengah. Ada 12 anggota tim yang diterjunkan untuk menyelediki penyebab kebakaran.

Kapolres Tanjabtim AKBP Deden Nurhidayatullah mengatakan, tim sudah di lokasi sejak hari pertama kebakaran. Dugaan awal, kata dia, kebakaran disebabkan oleh arus pendek atau korsleting listrik. Namun, pihaknya tetap menunggu hasil penyelidikan resmi oleh tim Inafis.

Dia mengimbau masyarakat Tanjabtim waspada dan peka dengan hal-hal yang potensial menyebabkan kebakaran. “Jangan nanti karena keteledoran satu orang, masyarakat banyak terkena imbasnya dan dirugikan,” katanya. (*/cr1)

Sumber: metrojambi.com

Komentar

News Feed