oleh

Dua Emiten Sawit Optimis Penjualan dan Produksi Dapat Meningkat 5%

Kenaikan harga minyak sawit (crude palm oil/CPO), potensi membaiknya permintaan dari India, Tiongkok dan Eropa yang biasanya kurang bersahabat dengan CPO, serta faktor cuaca yang diperkirakan akan lebih baik pada semester II-2021 akan menjadi katalis utama bagi dua emiten sawit yang terafiliasi dengan Grup Salim, yakni PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).

Kedua perusahaan ini, optimistis penjualan dan produksi hingga akhir 2021 bisa meningkat sekitar 5% dibandingkan akhir tahun lalu.

Presiden Direktur Lonsum, Benny Tjoeng mengungkapkan, kenaikan harga CPO tentu pengaruhnya positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Lonsum mengestimasi, ada pertumbuhan 5% pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk mencapainya, perseroan selain sudah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 450 miliar, juga akan fokus pada efisiensi dan kegiatan peremajaan adalah kegiatan menanam kembali kebun (replanting) bagi tanaman yang sudah tua atau berumur di atas 25 tahun. Selain itu, Lonsum juga akan membuka lahan yang belum dibuka.

”Untuk tanam baru di 2021 ada 1.000 hektare (ha), yang replanting juga 1.000-1.500 ha di selama tahun 2021 ini,” kata Benny dalam konferensi pers, Jumat (8/10/2021).

Baca Juga  5.000 Orang Di Tangerang Jalani Vaksinasi Massal

Lonsum, tambah Benny, juga sudah membangun pabrik kelapa sawit di Kalimantan Timur yang pada Mei 2021 lalu telah dimulai uji cobanya dan sudah mulai beroperasi. Di mana, untuk membangun pabrik itu, perseroan sudah mengeluarkan investasi Rp 150 miliar dengan kapasitas produksi yang dihasilkan sebanyak 45 ton per jam atau 235.000 ton per tahun.

Senada, Direktur Salim Ivomas Pratama Tan Agustinus Dermawan juga optimistis kinerja keuangan perseroan di akhir tahun baik untuk penjualan dan produksi akan meningkat sekitar 5% dibandingkan tahun 2020.

Kenaikan terutama akan terjadi di divisi proses pemurnian kelapa sawit yang pada akhirnya akan dihasilkan produk yang memiliki warna yang lebih cerah, tidak memiliki rasa, dan memiliki stabilitas (refinery).

”Strateginya kita masih fokus secara generik di replanting tanaman tua. Tahun depan kita rencanakan juga seperti itu. Disamping itu, divisi refinery kita akan tambah beberapa plant terutama di margarin untuk antisipasi market yang sudah ada,” katanya.

Agustinus menambahkan, hingga semester I-2021 Salim Ivomas sudah menggelontorkan capex Rp 500 miliar dari anggaran yang disiapkan tahun ini sebesar Rp 1,3 triliun.

Baca Juga  Jelang Pelantikan Presiden, Muzani Sambangi SBY di Cikeas: Undangan Penting untuk Tokoh Bangsa

Sementara itu, terkait kenaikan harga CPO, emiten produsen minyak goreng Bimoli dikatakan Direktur Salim Ivomas Pratama Suaimi Suriady sudah menaikkan harga jualnya sebanyak tujuh kali dalam sembilan bulan terakhir ini.

Adapun, di tahun 2020 perseroan sudah membangun refinary yang ketiga, di mana investasi yang dikeluarkan sebesar Rp 200-250 miliar untuk kapasitas 1.500 metrik ton per harinya.

Lonsum mencatatkan laba Rp 696 miliar pada tahun 2020. Pencapaian ini lebih tinggi 174,1% year on year (yoy) atau dibandingkan tahun 2019 yang untung Rp 253 miliar. Namun dari sisi penjualan diperoleh Rp 3,54 triliun, atau turun 4,4% dari sebelumnya 3,70 triliun.

Sementara, hingga semester I-2021, Lonsum mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tumbuh 445% dari Rp 91,98 miliar menjadi Rp 501,21 miliar.

Penjualan perseroan sebesar Rp 2,17 triliun, tumbuh 39% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,56 triliun. Hal tersebut didukung dari kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata (ASP) produk sawit. ASP CPO dan produk inti sawit (palm kernel/PK) naik masing-masing sebesar 25% year on year (yoy) dan 56% yoy.

Baca Juga  Gubernur Jateng Bentuk Tim Satgas TKDN untuk Tingkatkan Kualitas Produk Lokal

Sedangkan, Salim Ivomas berhasil membalikkan rugi Rp 546 miliar di tahun 2019 menjadi untung Rp 234 miliar di akhir tahun lalu. Di mana, penjualan tercatat Rp 14,48 triliun, naik 6% dari periode akhir 2019.

Sementara, hingga semester I-2021, Salim Ivomas yang mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 219,00 miliar, berbanding terbalik dengan semester I-2020 yang merugi Rp 300,81 miliar.

Kenaikan laba ditopang pendapatan yang meningkat 30,3% menjadi Rp 8,96 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,87 triliun.

Namun, produksi tandan buah segar (TBS) inti Salim Ivomas turun 3% menjadi Rp 1,36 juta ton jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total produksi crude palm oil (CPO) juga turun 1% menjadi 345.000 ton. Sejalan, volume penjualan CPO juga turun 1% menjadi 343.000 ton dan penjualan inti sawit turun 3% jadi 84.000 ton. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

Komentar

News Feed